Masa Lalu

 

“Masa lalu adalah persoalan yang sudah mati dan kita tidak akan meraih momentum untuk menuju hari esok kalau kita menyeret-nyeret masa lalu di belakang kita”

Jack Hayford

 

“Satu-satunya perbedaan antara siapa anda hari ini dengan siapa anda lima tahun lagi akan tampak dari buku-buku yang anda baca dan dengan siapa anda bergaul serta dengan siapa anda melewatkan waktu itu”

Charle Jones

Himpunan ada Bukan untuk Eksklusifitas

Seiring dengan wacana tentang masalah keanggotaan, akhir-akhir ini gencar pewacanaan tentang Sidang Istimewa yang akan dihelat untuk meninjau atau memperbaiki Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Himpunan Mahasiswa Program Studi Biologi ITS. Bahkan sebenarnya wacana tersebut sudah berkembang sejak kepengurusan 2005/2006 akan tetapi belum juga terlaksana. Sebenarnya seberapa besar tingkat kepentingan peninjauan kembali AD/ART dengan kondisi saat ini? Apakah sudah tidak relevan, atau untuk mengakomodasi perubahan pandangan yang berkembang setelah bertahun-tahun perjalanan Himpunan tanpa ada kawalan dari para pendiri?

 

#

Jika menilik dari awal perkembangan wacana meninjau AD/ART dikarenakan persoalan kenggotaan yang cukup krusial. Selama ini pada awal masuk mahasiswa baru selalu digemborkan masalah kaderisasi yang berkaitan dengan keanggotaan Hima, hingga muncul istilah boikoter bagi mahasiswa yang tidak mengikuti jalannya kaderisasi, padahal hal tersebut tidak disebutkan dalam AD/ART. Di dalam AD/ART yang disebutkan adalah adanya anggota pasif dan anggota aktif. Ada perbedaan penafsiran yang berkembang soal keanggotaan, selama ini selain sebutan boikoter dengan maksud untuk menyelaraskan dengan AD/ART bagi mereka yang tidak mengikuti rangkaian kaderisasi tidak disebut sebagai anggota aktif  tapi pasif(baca: sama dengan boikoter). Jika kembali merujuk pada AD/ART bab keanggotaan, yang disebut sebagai anggota aktif adalah anggota pasif yang saat ini menjadi menjadi fungsionaris Hima, jadi setelah habis masa jabatannya mereka akan kembali menjadi anggota pasif, bukan seterusnya menjadi anggota aktif. Dengan perkembangan wacana itulah yang mengapa Sidang Istimewa mulai disiapkan untuk masuk metabolisme Hima. Setelah itu, kajian mengenai AD/ART mulai gencar, bahkan kepengurusan 2007/2008 membentuk tim ad hoc untuk Sidang Istimewa. Gencarnya kajian menyebabkan munculnya berbagai pertanyaan tentang penafsiran AD/ART , hingga akhirnya himpunan mengundang elemen pendiri Hima, Mba Bras, Prita dan Bobo (angkatan pertama Biologi ITS).

 

#

Pada diskusi yang digelar di meja keramik gedung H lantai satu itulah banyak pencerahan tentang filosofi berdirinya himpunan telah saya dapatkan. Dari banyak hal itu, yang paling menjadi pusat perhatian saya adalah himpunan dibentuk untuk mengakomodasi seluruh elemen mahasiswa biologi, bukan ekslusif sekelompok tertentu yang membatasi diri dengan kedok keanggotaan. Hal ini seperti yang tertuang dalam pasal 7 tentang tujuan HimaProdi BITS adalah menghimpun, membina, mengembangkan potensi dan intelektualitas mahasiswa Biologi yang berorientasi pada keprofesian serta profesionalisme kerja. Dengan demikian, elemen fungsionaris hima dituntut untuk proaktif menghimpun semua potensi yang dimiliki mahasiswa Biologi sesuai tujuan organisasi, bukan mengkebiri beberapa elemen lain yang semestinya punya potensi dan dapat berkembang dengan kedok keanggotaan yang begitu sulit untuk dilewati. Memang benar, sesuatu akan dapat terus terjaga jika diperoleh dengan perjuangan yang berat, akan tetapi jika itu dibiarkan dalam hima hal itu lebih mengarah pada ekslusifitas dan membentengi diri terhadap perubahan, “bukankah yang kekal itu adalah perubahan itu sendiri?”.  Apalagi masalah keanggotaan yang sering digemborkan pada Mahasiswa Baru ternyata bertentangan dengan AD/ART! Kaderasisasi bukan jalan untuk menjadi anggota Hima, sebab semua mahasiswa biologi adalah anggota Hima,. Kaderisasi selama ini juga lebih banyak mengarah pada munculnya kebencian maba terhadap senior jika tidak segera dinetralisir setelah proses kaderisasi selesai, imbasnya adalah kebencian kepada hima dan mereka beralih pada organisasi lain dengan menyebarkan opini negatif tentang hima. Dengan sulit dan kurang jelasnya aturan main untuk aktif didalam hima masih bertahan, kemudian diikuti dengan tingkat ketertarikan mahasiswa untuk berorganisasi semakin rendah serta upaya untuk mencitrakan hima untuk membuat mahasiswa yang lain tertarik juga belum optimal, maka akan semakin mengukuhkan Hima sebagai organisasi yang eksklusif, dan tidak sesuai dengan filosofi tujuan dibentuknya Hima oleh para pendiri. Bukan memaksa, tapi buatlah Bangga dan nyaman.

 

#

Jika kita kembali merujuk pada AD/ART hima, organisasi kita adalah organisasi yang terbuka bagi semua mahasiswa Biologi, aktif atau tidaknya seorang anggota adalah menjadi tantangan bagi Fungsionaris Hima untuk dapat mempersuasi anggota,.

 

#

Cukup menantang memang, akan tetapi kita yang sudah menerima amanah untuk menjadi fungsionaris hima secara langsung bertanggungjawab atas itu semua. Jadi, sudah saatnya perubahan, perubahan dari mengintimidasi untuk menjadi menarik, perubahan dari menutup diri masuknya potensi baru yang dibentengi persoalan keanggotaan, perubahan untuk lebih menghargai perbedaan dari pada memaksakan untuk sama, perubahan dari solidaritas angkatan ke solidaritas biologi, ITS, dan lebih besar lagi pada Bangsa!

 

Saatnya Biologi Untuk Bangsa!!! Bukan kerdil memikirkan persoalan yang tidak produktif,..

 

Boikoter!!!

“Boikoter”, dalam perjalanan Himpunan Mahasiswa Biologi ITS istilah ini memang sering mencuat. Terutama dalam pelaksanaan Kaderisasi yang selalu menjadi gawe dan menyedot perhatian seluruh elemen Hima. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “boikoter” yang sering mencuat ini? Dalam pemikiran saya, boikot merupakan sikap dengan sengaja menentang/menolak aturan dan/atau penguasa atau menolak memenuhi kewajiban. Sikap boikot biasanya dilakukan karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, sehingga mereka menuntut hak dengan gerakan komunal. Dengan pemahaman ini, sebenarnyapihak yang dirugikan adalah penguasa yang menjadi objek. Hal ini dikarenakan sistem yang ada akan tergocang dan tidak berjalan baik yang berimbas pada produktivitas. Jadi, boikot dilakukan dengan sengaja oleh konstituen, dan bukan sesuatu yang disematkan dan sebenarnya ditolak oleh pemboikot.

Lalu apa yang selama ini terjadi di Hima Biologi ITS tentang Boikoter?
Istilah “Pemboikot” disematkan bagi mereka yang tidak mengikuti proses Kaderisasi, baik karena tidak tahan atau ‘lari”, atau bagi mereka yang dengan keras “menentang” proses kaderisasi.

“Lari”
Yaitu bagi mereka yang tidak mengikuti kaderisasi karena mereka tidak mampu beradaptasi terhadap proses dan akan menghindar dari panitia pelaksana tanpa ada keberanian menunjukkan sikap menentang. Bahkan mereka cenderung mencari perlindungan atau melaporkan proses kaderisasi kepada pihak-pihak tertentu yang tidak memahami alur kaderisasi BITS, kepada Dosen misalnya atau mendatangkan orang tuanya ke kampus. Dengan beberapa tindakan ini, sebenarnya mereka telah menentang tata aturan yang berlaku di BITS, tapi tidak ada keberanian . Beberapa diantara mereka akan kembali pada proses pada saat situasi sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akan tetapi ada juga yang sampai akhir tidak kembali pada proses dan sematan Boikoter dari panitia akan dibawa seterusnya.

“Menentang”
Bagi saya, “boikoter” yang “menentang” yaitu mempunyai pandangan lain dalam proses kaderisasi dengan dasar kuat bukan dasar mencari aman adalah “KEREN” (bukan berarti saya mendukung). Inilah mahasiswa, bukan pengekor dan selalu punya bandangan sendiri, entah menolak atau menerima dan bukan karena mengikuti teman. Adakah boikoter yang seperti ini? Ada, tapi yang saya tahu Cuma ada 1 (satu) orang di biologi dan terus eksis memperjuangkan pemikirannya di Biologi hingga lulus. Bukan meninggalkan dan mencemooh dari luar!!! Bukankah perubahan harus dimulai dari diri sendiri lalu lingkungan terdekat kita? Kalo kita jadi Mahasiswa Biologi, ya MONGGO kita perbaiki rumah kita!!! Dan sebagai pengurus hima kita juga harus menghargai orang yang bersikap beda sama kita, dikelola saja perbedaan yang ada, jangan dipaksa sama, eman energi kalian

Lalu bagaimana menderitanya seorang Boikoter?
Mereka dengan sendirinya akan merasa terkucilkan dan tidak nyaman berada di lingkungan biologi. Seolah tidak mempunyai hak untuk mengikuti aktivitas Himpunan, sekalipun kapabel mengikuti pelatihan mereka akan dicoret sebagai peserta karena label “boikoter”, bahkan mereka akan merasakan intimidasi dari “Asisten kurang profesional” yang mencampuradukkan urusan Kuliah dengan Organisasi (bagi pengurus hima, berhati-hati dalam bersikap, jangan merendahkan Hima Prodi BITS dengan Sikap demikian)dan banyak hal lain yang bisa ditanyakan kepada para boikoter sendiri? (emange yang boikoter siapa saja ya?). Akan tetapi ada juga “boikoter” yang bersinar bersama organisasi lain. Hal itu tidak salah, akan tetapi, apabila kita mempunyai niche yang sama (biologi) kenapa kita acuh dan tidak peduli terhadap kelangsungan hidup niche kita?

Apakah Boikoter dibenarkan dalam HimaProdiBITS?
Kedua Istilah tadi telah berkembang di Keluarga Mahasiswa Biologi, akan tetapi apa istilah “Boikoter” sebenarnya ada dalam Anggaran Dasar Himpunan? Mari kita tinjau Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga Hima Prodi BITS Bab IV tentang Keanggotaan! Berdasarkan pasal 11, persyaratan menjadi anggota adalah (1) seluruh mahasiswa Biologi ITS merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi Biologi ITS. Kemudian syarat yang lain yang tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga adalah (1)mahasiswa Biologi ITS yang sedang menempuh pendidikan di ITS Surabaya dan (2) menyetujui AD/ART.
Nah, dari aturan tertinggi yang dimiliki Himpunan, tidak dibenarkan adanya sebutan “Boikoter”, jika mereka menjadi mahasiswa Biologi ITS aktif dan menyetujui AD/ART berarti telah menjadi anggota Hima Prodi BITS, yaitu kategori pasif (AD pasal 11 dan ART Pasal 2). Bagaimana anggota aktif? Silahkan pelajari AD/ART hima. Kalo tidak setuju, ya mereka bukan anggota Hima ProdiBITS dan ga usah diurusi!!! Tapi bagi mereka yang menjadi Anggota pasif yang memenuhi kewajiban sesuai AD/ART ya berikanlah haknya! Jangan bertindak seolah tak mengetahui aturan, padahal kegiatan ini berkaitan dengan keorganisasian! Jika memang tidak tahu, ya telusuri lagi….kalo sudah tau dan tetap menentang AD/ART berarti patut dipertanyakan kelayakan sebagai Anggota dan pengurus!!!

Sudah terlalu banyak catatan kurang baik dalam pelaksanaan Kaderisasi Himpunan Kita Tercinta, bertindaklah profesional, adil dan rapi atau sistemik legal….dan tidak mengulangi catatan negatif yang dilakukan pendahulu….demi kemajuan bersama…

World Wetlands Day 2008

Dalam konvensi Ramsar 1971 dan diretifikasi Pemerintah RI tahun 1991 lahan basah dikenal sebagai

daerah-daerah payau, paya, tanah gambut atau perairan, baik yang bersifat alami maupun buatan, tetap ataupun sementara, dengan perairannya yang tergenang ataupun mengalir, tawar, agak asin ataupun asin, termasuk daerah-daerah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut.

 

Dengan pengertian tersebut kawasan yang dapat dikategorikan dalam lahan basah meliputi sungai, danau, tambak, perairan pantai, dan rawa-rawa, serta kawasan lain yang sesuai dengan kategori di atas. Dengan demikian kawasan ITS yang tergenang secara periodik, terutama pada saat musim hujan yang menjadi rawa-rawa dapat tergolong sebagai  Wetlands.

 

Nilai penting,

Wetlands mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia. Hal ini telah diakui dalam Konvensi Ramsar bahwa manusia mempunyai  hubungan saling ketergantungan dengan lingkungan. Wetlands menjadi sumber utama perekonomian, kebudayaan, ilmu pengetahuan maupun nilai rekreasi, dengan hilangnya lahan basah akan sulit untuk diganti. Secara ekologis lahan basah berfungsi sebagai pengatur tata air dan sebagai habitat yang mendukung sifat-sifat flora dan fauna yang khas, terutama burung air

Ancaman,

Wetlands sering diplesetkan dengan wastelands, kawasan yang tidak bernilai dan menjadi tempat pembuangan sampah yang paling murah, menjadi sumber panyakit, dan persepsi-persepsi negatif lain berkembang di sebagian besar masyarakat dunia. Pandangan negatif dan didukung pernyataan Emil Salim dalam tulisan kang Ayos bahwa pola pikir manusia yang ekonomis membuat alam semakin kritis membuat keberadaan lahan basah semakin tidak berharga. Oleh karena itu lahan basah banyak dikonversi untuk meningkatkan nilai ekonomis. Yang terjadi seperti halnya di Jakarta dan Surabaya, dimana rawa-rawa banyak direklamasi menjadi perumahan dan pertokoan elit, nilai ekonomisnya pun akan berlipat berpuluh atau beratus kali lipat. Ya, kalo kita mau memperhatikan, di sekitar kampus ITS banyak sekali contoh dari aktivitas ini. 

 

Dampak kerusakan,

Sebagai kensekuensi akan hilangnya lahan basah, fungsi ekologis menjadi abnormal. Yang terjadi seperti yang dirasakan Presiden dan Wakil Presiden RI yang diberitakan Jawa Pos (1 feb) kemarin. Kawasan yang seharusnya berfungsi mengatur tata air, berubah menjadi tata busana/mode untuk memenuhi sebagian keserakahan. Di daerah Gebang juga semakin parah genangan airnya saat hujan lebat, tapi beruntungnya sebagian besar kawasan ITS masih eksis Lahan Basahnya, meski sebenarnya telah berkurang, jadi banjir di sekitar kampus masih belum berarti. Berkurang dan hilangya berbagai populasi flora-fauna yang tergantung pada keberadaan lahan basah berdampak langsung dengan lahan basah sebagai sumber perekonomian. Kualitas lingkungan yang semakin memburuk menurunkan  produktivitas ikan dan sumber daya lain. Petani tambak dan nelayan tradisional semakin terpuruk. Bahkan Menurut DR. AHMED DJOGHLAF dari Convention of Biological Diversity, kesalahan pengelolaan lahan basah berdampak pada hilangnya spesies dan berkaitan dengan pemanasan global.

 

Butuh kepedulian,

Kepedulian Internasional diwujudkan dengan Convention on Wetlands tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran. Selanjutnya, tanggal 2 Februari menjadi lahan basah se-Dunia (world wetlands day). Berbeda dengan peringatan hari besar Internasional yang lain, 2 Februari kurang terasa gaungnya. Tema tentang Healthy wetlands,healthy people dalam peringatan world wetlands day 2008 terlewat begitu saja. Hal ini akan berimplikasi  terhadap public awareness akan nilai penting lahan basah yang sulit berkembang. Dan kerusakan akan semakin sulit dikendalikan…..

 

Butuh kepedulian kita untuk kehidupan yang berkesinambungan…

 

Healthy wetlands,healthy people

Meneropong Birdstrike di Juanda

Secara geografis bandar Udara Juanda terletak pada koordinat 07°22′51″ lintang selatan dan 112°47′11″ bujur timur dengan elevasi 3 m dari permukaan air laut. Kawasan Bandar Udara Juanda terbagi atas landasan (dimensi 3.000 x 45 m2), taxiway (luas 161.108,4 m2), apron (luas 118.161 m2), parkir kendaraan (luas 53.600 m2), terminal (luas 60168 m2) dan peralatan GSE (luas 9.409 m2), secara keseluruhan luasnya 680 ha (PT. Angkasa Pura, 2007). Kondisi lahan yang berupa dataran terbuka tersebut banyak di tumbuhi rerumputan dan semak serta terdapat beberapa kolam air sebagai drainase. Rerumputan dan kolam air tersebut banyak menyediakan makanan dan menyebabkan berbagai jenis burung datang pada area tersebut. Menurut Solman (1971), di tengah perkembangan industri yang menyebabkan kerusakan habitat, bandar udara menyediakan lingkungan yang stabil sebagai ruang perlindungan dan makanan bagi hewan liar. Burung merupakan organisme yang mempunyai kemampuan untuk terbang dan mampu menempati semua habitat (Jasin, 1989). Kehadiran burung di ruang udara diketahui menjadi pengganggu dalam dunia penerbangan dengan istilah  bird strike (gangguan burung). Mantijaca (2000) menyebutkan tabrakan antara burung dan pesawat dalam terminologi lalu-lintas udara dikenal dengan bird strike. Bird strike didefinisikan sebagai tabrakan antara burung dan pesawat baik di dalam atau di luar area bandar udara, dengan kemungkinan berpengaruh lebih lanjut pada keselamatan penerbangan suatu pesawat, pada suatu kasus,terjadi burung terhisap atau tertabrak dengan mesin pesawat, atau tabrakan dengan badan atau sayap pesawat. Sebagai akibatnya bahwa mungkin  kerusakan pesawat, cidera atau kematian penumpang atau awak pesawat. Walaupun banyak gangguan burung (90 %) terjadi pada lingkungan bandara selama landing dan takeoff (di bawah 1000 m), gangguan burung telah dilaporkan terjadi pada ketinggian antara 0 sampai 9000 m (Cleary and Other, 2000 dalam Barras, 2002). Tabrakan antara burung dan pesawat (bird strike) merupakan bahaya yang penting bagi dunia penerbangan, jutaan dolar harus dikeluarkan untuk membayar kerusakan dan penundaan penerbangan. Hasil perhitungan yang dilakukan oleh United State Federal Aviation Administration (FAA), biaya yang dikeluarkan industri penerbangan Amerika Serikat sebesar US$ 385 juta per tahun ditambah 461.000 jam penundaan penerbangan (Cleary dalam Allan, 2000). Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan untuk gangguan burung bagi industri penerbangan komersial dunia diperkirakan US$ 1,28 milyar merupakan suatu kondisi yang sangat jelas penting bagi ancaman keselamatan (Allan and Orosz 2001)Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan RI, pada tahun 2002 telah terjadi gangguan burung (bird strike) di Bandar Udara Juanda, dimana telah menyebabkan kerusakan mesin pada pesawat Bouraq Airlines. Sedangkan di Bandar Udara Soekarno-Hatta dalam kurun waktu 2001-2002 terdapat 4 kali peristiwa bird strike (Alikodra, 2003).Barras (2002) menyatakan, spesies yang umum menyebabkan bird strike  di Ohio, Amerika Serikat dari tahun 1990 sampai 1999 adalah burung camar (Larus spp, 135 kali), burung pemangsa (Falconiiformes dan Strigiformis, 55 kali), dan waterfowl (Anseriformis, 49 kali).   Di Taiwan, Yo (2002) mengidentifikasi ring necked pheasant (Phasianus colchicus), merpati (Columba livia), dan common kestrel (Falco tinunculuc) merupakan spesies yang paling mengancam terjadinya bird strike. Sedangkan di Bandar Udara Soekarno-Hatta, pada kurun waktu tahun 2001-2002 terjadi 4 kali bird strike dengan penyebab burung camar dan kuntul (Egretta spp) dan 30 komplain dari maskapai penerbangan terhadap gangguan burung di Bandar Udara tersebut (Alikodra, 2003).

Bandar udara Juanda merupakan anggota Internatioal Civil Aviation Organization (ICAO) dengan kode yang disebtut WARR. Standar ICAO dalam penanggulangan bahaya burung (Bird hazard reduction) menyebutkan, otoritas bandar udara harus mengawasi bird strike, membuat prosedur standar pencatatan dan pelaporan, serta melaksanakan pengumpulan data baik dari penerbang dan personel bandar udara, terutama terhadap keberadaan burung yang berpeluang menimbulkan kecelakaan. Ketentuan standar lain juga mengharuskan otoritas bandar udara menekan tingkat populasi burung disekitar bandar udara serta terus meneliti perkembangan jenis burung yang berpeluang menimbulkan gangguan. (Martono, 2007).

Dua Kejutan ITS di Wisuda ke-95

08 September 2007,

wisuda ITS kali ini memang spesial. Selain sebagai wisuda dengan wisudawan terbanyak sepanjang sejarah, wisuda september ini juga menampilkan beberapa kejutan. Adalah Sirup mangrove dan eureka TV yang menjadi terobosan baru ITS dalam sejarah prosesi wisuda.

Graha Sepuluh Nopember, ITS Online - Seperti dikatakan Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, dalam sambutannya pada wisuda ke-95, Sabtu (8/9) di Graha Sepuluh Nopember, wisuda saat ini menjadi spesial dengan suguhan sirup apple mangrove untuk para undangan dan tayangan wisuda online (streaming) yang langsung bisa diakses melalui website ITS (www.its.ac.id).

Sirup Mangrove menjadi istimewa dalam prosesi wisuda kali ini. Sirup yang terbuat dari buah tanaman pantai penahan abrasi air laut itu dimungkinkan baru pertama ada di dunia. Sirup ini merupakan karya lima mahasiswa jurusan Biologi ITS; Agus Satriyono, Raindly Putri Kumala Djatmiko, Tatin Suherlina, Anita Syafitria, dan Widowati S. P. Sebelumnya penelitian mereka telah lolos pembiayaan Dikti untuk Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian.

Menurut Agus Satriyono, salah satu anggota tim mahasiswa pembuat sirup mangrove, tidak semua buah mangrove dapat dimanfaatkan sebagai sirup. ”Buah yang bisa digunakan hanyalah jenis mangrove yang buahnya seperti apel, jenis Sonerasia sp,” ungkap mahasiswa angkatan 2003 ini.

Dikatakannya, di beberapa daerah memang sudah ada yang memanfaatkan buah mangrove jenis ini sebagai bahan tambahan pada olahan makanan. Namun untuk sirup ini adalah yang kali pertama. Seperti di Bali yang menjadikannya bahan campuran rujak dan Balikpapan yang mengolahnya sebagai bahan pembuat permen.

Namun, kata Agus, di Jawa sendiri, buah yang lebih dikenal dengan sebutan Bogem ini belum banyak dimanfaatkan. ”Awalnya ide muncul untuk mengolah buah ini menjadi bahan makanan karena kami melihat buah ini dibiarkan jatuh dan dimakan makaka (jenis primata, Red),” tutur Agus.

Sirup berwarna coklat krem dan berasa sedikit masam menyegarkan ini memiliki banyak keistimewaan. Yakni dari banyak mengandung vitamin C sebagai anti oksidan. Selain itu yang unik, dikarenakan tanaman mangrove tumbuh di pantai, sirup ini juga mengandung zat yodium. Bahkan kadar zat yodium dalam mangrove ini sama dengan yang terdapat di dalam ikan laut.

”Dengan sirup ini kami harap dapat memberi nilai tambah pada masyarakat pesisir dalam pelestarian ekosistem mangrove. Karena selama ini mangrove banyak ditebang untuk diambil kayunya,” ungkapnya.

Minuman yang dinamakan Sirup Mangrove Apple ini, kata agus, juga sudah melalui uji klinis di Balai Penelitian dan Konsultasi Industri Jawa Timur sehingga aman untuk dikonsumsi.

Selain menyuguhkan minuman mangrove dalam kemasan cup plastik pada undangan, di acara wisuda ini Agus dan kawan-kawannya juga menawarkan sirup dalam kemasan botol pada hadirin yang berminat membeli. Tampilnya sirup Mangrove dalam wisuda kali ini juga merupakan penampilan perdana sirup tersebut di masyarakat luas. Sebelumnya sirup ini telah tampil pada stand edukasi ITS di Pimnas XX di Lampung, dan mendapatkan sambutan yang luarbiasa dari pengunjung.

Siaran Perdana Eureka TV
Selain sirup Mangrove, wisuda ke-95 ITS juga diwarnai dengan siaran langsung Eureka TV yang menanyangkan prosesi wisuda. Terobosan siaran langsung via online (streaming) ini bahkan bisa dibilang yang pertama ada di wisuda Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ketua Multimedia Centre ITS Dr Ir Widya Utama DEA saat ditemui ITS Online Sabtu (8/9) di kampus ITS. ”Biasanya yang sudah ada hanya bisa di-download untuk dilihat kemudian, tapi ini bisa langsung disaksikan saat proses acara berlangsung,” kata widya.

Siaran ini ungkap widya merupakan kerjasama antara UPT Pusat Komputer ITS dan UPT Multimedia Centre ITS yang dipimpinnya. Eureka TV saat prosesi wisuda dapat diakses melalui website ITS, www.its.ac.id.

Hanya saja, dikatakan Widya, memang masih ada kendala dalam hal bandwith. Dikarenakan streaming secara live, selain pengakses di luar wilayah jaringan intranet ITS maka membutuhkan bandwith yang besar. ”Minimal butuh bandwith internet 356 Kbps untuk dapat mengakses secara lancar,” kata pria yang juga menjabat direktur Center of Entrepreneurship Development ini.(asa/ftr)

Pecuk, Juara Satu Bird Race

21 Juni 2006 , Setelah menyelenggarakan Water Bird Watching Race, Himpunan Mahasiswa Biologi ITS mengirimkan wakilnya untuk mengikuti Bird Race di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk-Jakarta awal bulan ini (3/6). Dua kelompok tergabung dalam Divisi Study Burung “Pecuk” ini berhasil meraih juara satu dan tiga dalam perlombaan tersebut.

Biologi, ITS Online - Ditemui di kampus Biologi-FMIPA, Ketua Himpunan Mahasiswa Biologi ITS yang juga salah satu anggota dari Pecuk, Agus Satriyono, membenarkan bahwa timnya berhasil merebut juara satu dan tiga dalam Bird Race. Perlombaan dalam rangka Hari Lingkungan hidup Dunia ini dilaksanakan di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk-Jakarta awal bulan ini (3/6). “Syukur Mas, dua kelompok kami meraih dua juara dalam perlombaan tersebut. Dua kelompok tersebut terdiri dari Titian Dyah Nirwana, Ekho, dan juga saya di kelompok satu. Serta Ikha Sukma Melati, Arnold Victoryus, dan Ucu Yanu Arbi di kelompok dua ,” terang mahasiswa yang akrab dipanggil Agus ini.

Ditambahkannya, dalam perlombaan tersebut, kelompok satu berhasil meraih juara pertama dan dan kelompok dua meraih juara ketiga. “Syukurlah, kami bisa memboyong juara satu, juara dua direbut teman-teman Unnas Jakarta, dan juara ketiga diraih kelompok dua dari kami,” ujar Agus. Mahasiswa kelahiran Tuban 23 Desember 1985 ini mengaku tak menyangka akan meraih juara satu, oleh karena itu dirinya sangat kaget ketika diumumkan tim Pecuk merebut juara pertama.

Di lapangan, tim Pecuk berhasil mengidentifikasi 53 jenis burung dari 90-an jenis burung yang ada dalam area tersebut. Walaupun sudah merebut juara pertama dan menyisihkan sebelas kelompok lainnya, salah satu anggota kelompok satu tim Pecuk, Titian Diah Nirwana, mengaku belum puas dengan prestasinya tersebut. Mahasiswi asal Tulungagung ini merasa belum puas karena keterbatasan medan yang dijelajahi. “Waktu kami relatif singkat, dan daerah yang kami jelajahi juga belum terlalu luas. Kami sebenarnya masih ingin tahu lebih banyak tentang burung-burung di sana,” ujar mahasiswi Biologi angkatan 2003 ini.

Sementara itu, Ikha Sukma Melati, salah satu anggota kelompok dua, mengaku sangat bersyukur bisa meraih juara ketiga. “Tak apalah Mas dapat juara tiga. Ini adalah pengalaman pertama saya ikut Bird Race, saya sangat bersyukur bisa mendapat juara ketiga karena terhitung saya masih baru dalam hal studi burung, ” ujar Ikha. Walaupun demikian, mahasiswi angkatan 2004 ini mengaku akan terus berusaha untuk dapat menjadi yang terbaik dalam perlombaan selanjutnya.

Senada dengan Ikha, Ucu Yanu Arbi, yang juga salah satu anggota kelompok dua tim Pecuk, sangat bersyukur bisa meraih juara ketiga. Ucu berharap dengan kemenangan tim Pecuk ini, akan menarik perhatian pihak-pihak yang terkait untuk dapat mempehatikan kelestarian burung, terutama di ITS. “Semoga ke depannya tetap ada yang peduli dengan Bird Watching, dan yang terpenting adalah eksistensi ekosistem yang menjadi tempat berpijaknya burung-burung itu. Karena mereka adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti kita,” ujar Ucu.

Ucu yang juga merupakan pendiri tim Pecuk berharap agar Bird Watching dapat menjadi sarana untuk melestarikan ekosistem burung. Dirinya juga tidak keberatan jika nantinya ada rencana menjadikan Pecuk sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang khusus memperhatikan tentang burung. (Jie/ftr)

Mahasiswa ITS Olah Buah Mangrove Jadi Sirup

Minggu, 09 September 2007


SURABAYA - Mahasiswa biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat inovasi menarik. Yakni, memanfaatkan buah mangrove (pohon bakau, Red) yang selama ini banyak terbuang menjadi sirup dan dodol.

Mangrove dikenal memiliki banyak jenis atau spesies. Namun, yang dipakai untuk sirup dan dodol hanya spesies sonneratia. Mangrove jenis itu mirip apel.
Adapun mahasiswa biologi ITS yang menjadi motor pendayagunaan mengrove tersebut masing-masing Agus Satriyono, Raindly Putri Kumala Djatmiko, Tatin Suherlina, Anita Syafitria, dan Widowati S. P. Produk mereka telah lulus uji klinis dari Balai Penelitian dan Konsultasi Industri Jatim. Sirup olahan buah mangrove tersebut memiliki quality control dari ITS. Sementara itu, pemasaran
ditangani Center for Entrepreneurship Development (CED). Begitu juga pengepakan produk. “Inovasi ini berawal dari penelitian. Nah, kami meneliti mangrove itu di daerah Wonorejo sejak 2004,” ungkap Mantan Menteri Kesma BEM ITS ini mantap. Selama ini, mangrove lebih dikenal warga sebagai bogem atau pohon penghalang banjir. Selain itu, kayunya menjadi arang. Tumbuhan bakau tersebut tak terawat dan kurang dilestarikan.(ara)Sumber : Jawa Pos

Momentum Pergantian Ketua Program Studi Biologi ITS

Setelah Rektor beserta jajaran Pembantu Rektor dan Dekan beserta Pembantu Dekan di lingkungan ITS mengalamai proses mudawalah atau proses pergiliran, saat ini waktunya Ketua Program studi  Biologi harus mengalami proses transkripsi atas kodon yang telah dikirimkan oleh Keluarga Biologi ITS untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan. Pembaharuan pada dasarnya adalah terjadi peningkatan atas apa yang dicapai dengan VISI yang genuin dan besar, bukan berarti harus dengan orang baru. Hal inilah yang terjadi pada prosesi pemilihan bakal Calon Ketua program Studi Biologi ITS. Incumbent (ibu Dian Saptarini) bersama partner (Ibu Nurlita Abdulgani) selama periode 2003-2007 harus “bersaing” untuk mengisi kekosongan kursi Ketua prodi Biologi periode 2007-2011.  

Selasa (25/9)-Biologi ITS. prosesi penyampaian Visi Misi bakal calon ketua program studi Biologi, satu yang nampak dua…??! Sebenarnya ada 2 calon maju tetapi cuma ada “satu” visi dan misinya. Incumbent begitu lancar dan siap seperti visinya menjadikan Biologi ITs yang mantap dan unggul. Sementara itu, patnernya belum siap dengan visi misi dan dengan nyata menyatakan dukungannya kepada incumbent.

Kok cuma ada 2..1 lagi??sebenarnya ada 2 apa 1..??

Dengan kondisi seperti ini, siapapun yang terpilih akan menjalankan pola yang relatif sama dengan yang dijalankan 4 tahun belakangan. Tetapi harapan akan perubahan harus selalu ada. Akhirnya, Kamis (27/9) incumbent terpilih kembali sebagai Ketua Program Studi Biologi ITS. Bagaimana pandangan Bu Dian Saptarini tentang  Mahasiswa yang disampaikan pada saat penyampaian visi misi?

*Pengkaderan

…..Plasma 2003, MOA 2004, MOA 2005, KORAL 2006,dan KORAL 2007 merupakan aktivitas penyambuatan yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Biologi ITS kepada mahasiswa baru. Masa orientasi ini menjadi rutinitas tahunan yang merupakan gawe besar dan begitu menarik untuk diikuti oleh seluruh Keluarga Mahasiswa Biologi ITS. formasi bola menjadi jadwal dan kajian menarik bagi mahasiswa selaku panitia. Bagaimana mungkin dalam waktu singkat dapat membuat mahasiswa baru beradaptasi pada lingkungan baru dengan karakter yang kuat? itu yang biasa dikeluhkan. Hingga akhirnya proses lobying trus dilakukan dari tahun ke tahun untuk memperoleh keleluasaan  dalam mengembangkan mahasiswa barunya. Pandangan lain diberikan Ketua Program Studi Biologi, bahwa setelah dievaluasi kadersisasi atau orientasi mahasiswa baru telah mengganggu kegiatan akademik, oleh karena itu dari tahun ke tahun ITS menarik keluar striker dari formasi bola, dari 4-2-2 menjadi 4-2-0 hingga sekarang dibuat formasi bertahan 4-0-0.

Kegiatan orientasi di biologi sudah mempunyai arah yang jelas, tidak seperti apa yang dikhawatirkan pada jurusan lain. akan tetapi arah yang jelas tersebut dapat berubah karena ada pihak-pihak yang mempunyai orientasi lain pada proses kaderisasi.Oleh karena itu ITS mengambil kebijakan membuat rambu-rambu pelaksanaan.Di tengah rambu-rambu yang semakin ketat, sebenarnya kawan-kawan mahasiswa masih dapat membuat aktivitas kepada mahasiswa baru, dengan catatan pesertanya bukan hanya mahasiswa baru saja.Kondisi ini masih membuka peluang lebar bagi Kawan-kawan mahasiswa untuk mengembangkan kadernya manjadi lebih kompeten, sekarang yang perlu ditunggu adalah bagaimana pola pengembangan mahasiswa HimaBITS telah dirancang dan pelaksanaannya? Daun sudah berganti, bulu berbiak sudah berubag, row material yang masuk di Biologi juga berubah, tapi apa visi kaderisasi juga berubah…!!!

*Kegiatan Kemahasiswaan

Bagaimana kondisi ideal mahasiswa Biologi ITS? kok dalam pemaparan VISI MISI tidak disebutkan, salah satu pertanyaan yang muncul pada sesi diskusi yang dilontarkan finalis Bayer Young Envoi 2007 dari bio04.Dengan bahasa diplomatis, bu Dian menyatakan memberikan keleluasaan bagi HimaBITS untuk membuat mimpi bersamanya dalam mengembangkan Mahasiswa, yang penting seluruh kegiatan kemahasiswaan dapat bersinergi dengan aktivitas Jurusan. Dari sisi lain, bu dian menilai keberadaan Mahasiswa Biologi ITS sudah cukup lumayan, hal ini dinilai dari eksistensi kegiatan dan prestasi yang telah banyak ditorehkan mahasiswa biologi. perkembangan penelitian dan kegiatan keilmiahan menunjukkan grafik yang cukup baik. Dengan visi “unggul dan Mantap” dalam biologi kelautan ternyata tidak memberikan batasan bagi pengembangan studi lain yang berkembang di kalangan mahasiswa, karena hal itu akan memberikan warna tersendiri dan memberikan dukungan bagi biologi kelautan, seperti halnya dengan pecuk. Jika perkembangan kemahasiswaan sudah lumayan bagaimana dengan dukungan keuangan, yang memang berasal dari mahasiswa sendiri lewat SPP. Jawaban pertanyaan ini disampaikan oleh Bu Nurlita SekProdi Biologi dan manjadi bakal calon pada pemilihan kali ini, dalam satu periode kepengurusan Himpunan, dana yang dapat digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan sebesar 5 % dari SPP mahasiswa Biologi. Lima persen tersebut telah menjadi kesepakatan semua jurusan di FMIPA, tapi jangan lupa ada keringanan SPP yang dikeluarkan oleh Fakultas, jadi tidak semuanya masuk perhitungan. Informasi yang diperoleh dari Bendahara Umum HimaBITS, tahun ini anggaran yang diperoleh dari SPP/DPP berkisar Rp 5 juta. Lalu berapa jumlah total mahasiswa aktif biologi…?…5% dari SPP berapa? Cukup buat kegiatan Hima selam satu periode?Sejatinya, mahasiswa adalah kaum intelektual yang paling merdeka, Cerdas, Ulet dan Kreatif adalah modal yang sangat berharga. Dengan sikap yang santun, siapapun yang menjadi pemimpin, kita adalah kaum merdeka yang bertanggungjawab. Kemajuan kita ada ditangan kita sendiri, di luar kita adalah organ pendukung!!!

Selamat bagi Bu Dian Saptarini yang telah terpilih kembali menjadi Ketua Program Studi Biologi ITS periode 2007-2011. Semoga dapat menjalankan VISI dan MISI nya dengan baik dan kemajuan untuk mahasiswa menjadi signifikan hingga ekistensi kita kepada Bangsa dapat dirasakan Optimal. (sat)

pantai sowan

18-19 Agustus 2007 melakukan perjalanan riset lamun bersama Timnya Nurul